Kota Dumai – Aswaja Nusantara Global menggelar seminar edukatif bertema distribusi daging qurban yang tepat dan bersyari’ah di Masjid Hidayatul Awwam. Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari tokoh agama, pengurus masjid, hingga masyarakat umum yang antusias mengikuti jalannya seminar.
Acara dibuka langsung oleh Ketua Aswaja Nusantara Global, H. Panaekan, Lc, bersama Ketua Masjid Hidayatul Awwam. Dalam sambutannya, H. Panaekan menegaskan pentingnya pemahaman masyarakat mengenai tata cara penyembelihan dan pendistribusian daging qurban yang sesuai dengan syariat Islam agar manfaat qurban benar-benar dirasakan oleh masyarakat yang berhak menerimanya.
“Kedepannya dengan adanya acara seminar ini, diharapkan dapat membantu masyarakat Muslim yang ada di kota Dumai, khususnya para panitia qurban memahami konsep-konsep dasar syar’i tentang pembagian daging qurban ini. Jadi tidak ada kegelisahan dan persoalan untuk pembagian daging qurban ini di masa mendatang” ujar beliau.
Seminar ini menghadirkan sejumlah narasumber yang kompeten di bidangnya, yakni KH. Rahmat Afifi, Lc, Habib Syakir Al Habsy, serta Ust. Husnul Hadi, S.H.I. Sementara jalannya diskusi dipantik oleh Agustri, S.H.I., M.E.Sy yang berhasil menghidupkan suasana forum dengan berbagai pertanyaan dan isu aktual terkait pelaksanaan qurban di tengah masyarakat.
Dalam pemaparannya, para narasumber menjelaskan berbagai persoalan yang sering muncul dalam praktik pembagian daging qurban, mulai dari mekanisme dan tatacara qurban nazar, qurban untuk orang lai, dan qurban untuk yang sudah meninggal dunia, ketepatan sasaran penerima, adab dalam distribusi, hingga pentingnya transparansi panitia qurban. Habib Syakir Al Habsy sebagai salah satu pemateri bahkan memberikan solusi kongkrit bagi panitia qurban dalam bentuk aqad ijab qabul dalam berqurban secara tertulis, dengan tujuan agar kejelasan tugas, kewajiban, dan kewenangan seorang panitia qurban. Mereka para pemateri juga menekankan bahwa ibadah qurban bukan hanya sekadar ritual tahunan, tetapi juga memiliki nilai sosial yang besar dalam memperkuat ukhuwah dan kepedulian terhadap sesama.
Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan dan diskusi yang berkembang selama acara berlangsung. Para peserta aktif menyampaikan pengalaman dan persoalan yang mereka hadapi di lingkungan masing-masing terkait pengelolaan qurban. Diskusi yang berlangsung hangat dan interaktif membuat suasana seminar semakin hidup.
Namun demikian, keterbatasan waktu membuat tidak semua pertanyaan dapat dibahas secara mendalam. Karena tingginya minat peserta, banyak di antara mereka berharap kegiatan serupa dapat kembali dilaksanakan, bahkan digelar langsung di lingkungan atau masjid masing-masing agar edukasi tentang qurban bersyari’ah dapat menjangkau masyarakat lebih luas.
Seminar ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun pemahaman umat mengenai pentingnya pelaksanaan dan distribusi daging qurban yang tepat, adil, serta sesuai dengan tuntunan syariat Islam.*(Nayyer)