Peringatan Isra’ wa Mi’raj bukan sekadar mengenang perjalanan fisik Rasulullah ﷺ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha lalu menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha. Lebih dari itu, Isra’ wa Mi’raj adalah perjalanan batin, perjalanan hati seorang hamba yang dipanggil langsung oleh Tuhannya. Ia bukan hanya kisah sejarah, melainkan cermin spiritual bagi umat Islam sepanjang zaman.
Isra’ wa Mi’raj terjadi pada fase paling berat dalam kehidupan Nabi Muhammad ﷺ. Tahun kesedihan (ʿāmul ḥuzn) telah merenggut orang-orang tercinta: Khadijah ra. dan Abu Thalib. Dakwah ditolak, jiwa terluka, dan langkah seolah tertatih. Namun justru di titik terendah itulah Allah mengundang Rasul-Nya naik, bukan sekadar untuk melihat, tetapi untuk dikuatkan. Inilah pesan mendalam bahwa perjalanan menuju Allah sering kali dimulai dari luka dan keikhlasan.
Perjalanan hati dalam Isra’ wa Mi’raj mengajarkan bahwa kedekatan dengan Allah tidak selalu diukur oleh jarak dan waktu, melainkan oleh kesucian jiwa dan ketundukan hati. Rasulullah ﷺ tidak membawa kekuasaan, harta, atau kehebatan duniawi. Yang dibawanya hanyalah hati yang bersih, iman yang utuh, dan kepasrahan total sebagai seorang hamba. Maka tidak heran jika hadiah terbesar dari peristiwa agung ini adalah shalat yaitu ibadah yang menjadi mi’raj-nya orang beriman.
Shalat bukan sekadar ritual gerak dan bacaan, melainkan undangan harian bagi setiap muslim untuk melakukan perjalanan batin menuju Allah. Dalam shalat, seorang hamba melepaskan sejenak hiruk-pikuk dunia, menundukkan ego, dan berdiri dalam kesadaran penuh di hadapan Sang Pencipta. Jika Isra’ wa Mi’raj adalah perjalanan Nabi ﷺ menuju Allah, maka shalat adalah jalan pulang hati setiap hamba menuju Rabb-nya.
Momentum peringatan Isra’ wa Mi’raj seharusnya menjadi ajakan untuk melakukan refleksi diri. Sudah sejauh mana hati kita berjalan menuju Allah? Ataukah kita masih terjebak dalam rutinitas ibadah tanpa ruh, gerak tanpa rasa, dan doa tanpa kesadaran? Isra’ wa Mi’raj mengingatkan bahwa iman membutuhkan perjalanan, kesabaran, dan pengorbanan, bukan sekadar pengakuan lisan.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan bising, peringatan Isra’ wa Mi’raj hadir sebagai oase spiritual. Ia mengajak manusia untuk berhenti sejenak, menata ulang niat, dan membersihkan hati. Bahwa setinggi apa pun pencapaian dunia, tanpa perjalanan hati menuju Allah, jiwa akan tetap hampa.
Akhirnya, Isra’ wa Mi’raj adalah pesan cinta dari langit kepada bumi. Bahwa Allah Maha Dekat dengan hamba-Nya yang bersungguh-sungguh. Bahwa setiap luka bisa menjadi jalan naik, dan setiap sujud yang tulus adalah tangga menuju kedamaian sejati. Maka marilah kita maknai Isra’ wa Mi’raj bukan hanya sebagai peristiwa, tetapi sebagai perjalanan hati yang terus kita tempuh-dari dunia menuju Allah, dari lalai menuju sadar, dari jauh menuju dekat.(Agustri)